Realisasi Belanja Sarana Menara Nusantara Capai Rp 1,1 Triliun

Realisasi Belanja Sarana Menara Nusantara Capai Rp 1,1 TriliunRealisasi Belanja Sarana Menara Nusantara Capai Rp 1,1 Triliun

Sejak awal tahun ini perusahaan menara (tower) telekomunikasi, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) telah menyiapkan dana senilai Rp 2 triliun untuk belanja modal. Rencana awalnya, 30% dana belanja modal akan mereka pergunakan untuk pembangunan menara.

Wakil Direktur Utama TOWR Adam Ghifari mengungkapkan, realisasi belanja modal per Juni 2018 mencapai Rp 1,1 triliun. “Untuk belanja menara terdiri dari menara baru, kolokasi, maintenance, dan bayar sewa lahan ke pemilik lahan. Ada juga untuk non menara seperti VSAT dan fiber optics,” ujar Adam.

Hingga Juni 2018, TOWR telah menyelesaikan 1.300 pesanan sewa menara. TOWR juga sudah memiliki 6.000 kilometer jaringan serat optik (fiber optic) dari total yang akan dikerjakan sepanjang 8.000 kilometer. “Masih 2.000 kilometer yang sedang dibangun,” tambah Adam.

Selanjutnya, memasuki paruh kedua tahun 2018, TOWR telah menerima permintaan sebanyak 1.150 menara, yang akan mereka kerjakan. Permintaan tersebut diharapkan juga dapat mendongkrak pendapatan TOWR sepanjang semester II-2018.

Menurut Adam, pencairan belanja modal TOWR seiring dengan permintaan operator telekomunikasi yang juga meningkat. Sebab, adanya regulasi yang mewajibkan pengguna nomor prabayar untuk registrasi, membuat operator telekomunikasi semakin berfokus meningkatkan layanannya agar pelanggan tidak kabur. Kondisi tersebut berdampak positif bagi industri menara telekomunikasi.

Bagi TOWR tahun ini tidak ada wilayah khusus yang mereka targetkan untuk mendongkrak kinerja. “Kami mengikuti pola perkembangan jaringan para operator telekomunikasi,” ujar Adam.

Non organik

Selain untuk ekspansi bisnis secara organik perusahaan ini juga memakai belanja modal untuk ekspansi non organik. TOWR telah mengeluarkan dana Rp 1,4 triliun untuk akuisisi PT Komet Infra Nusantara (KIN). Hasil akuisisi ini sudah berkontribusi ke pendapatan semester I-2018 walaupun hanya beroperasi selama satu bulan sebelum tutup buku semester I-2018.

BACA :   Indah Kiat (INKP) dan Tjiwi Kimia (TKIM) Raup Untung dari Kebijakan Pembatasan Impor

Grup TOWR secara konsolidasi per akhir Juni 2018 memiliki 16.700 unit menara dengan tambahan sebanyak 807 unit menara yang diperoleh secara organik dan juga tambahan menara sebanyak 1.369 unit menara yang berasal dari KIN. Manajemen TOWR menghitung, dengan asumsi rata-rata pendapatan tahunan KIN senilai Rp 325 miliar.

Sementara itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) kemarin juga sudah mengumumkan bahwa rapat umum pemegang saham (RUPS) telah memberikan persetujuan kepada manajemen untuk buyback saham.

Persetujuan RUPS atas buyback saham adalah sebanyak-banyaknya sejumlah 5% dari jumlah saham yang beredar atau 2,550,573,125 saham.

Adam menambahkan, perusahaan di bawah Grup Djarum ini berencana untuk menyimpan saham hasil pembelian di pasar ini sebagai saham treasury. “Kami akan pertimbangkan saham treasury sebagai salah satu opsi metode pembayaran transaksi apabila ada transaksi akuisisi di masa mendatang,” katanya.

Apalagi, menurut dia, saat ini sejumlah pihak tertarik dengan komponen saham sebagai salah satu alat pembayaran transaksi akuisisi. Jadi, tak seluruhnya berupa pembayaran uang kas.

Sebagai catatan, baru-baru ini TOWR mengakuisisi 100% saham PT Komet Infra Nusantara (KIN). Untuk akuisisi tersebut, TOWR mengeluarkan Rp dana sebesar 1,4 triliun yang berasal dari kas internal. “TOWR terbuka atas kemungkinan melakukan lagi akuisisi,” ungkap Adam.

Direktur Utama TOWR Aming Santoso mengungkapkan bahwa tren terakhir memperlihatkan industri telekomunikasi masih terus bertumbuh. “Manajemen TOWR percaya bahwa harga saham perseroan saat ini belum menggambarkan nilai sesungguhnya,” katanya.