Prediksi IHSG Weekeend Terus Anjlok

Prediksi IHSG Weekeend Terus Anjlok

Kondisi pasar modal Indonesia selama seminggu terakhir ini tengah mengkhawatirkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini berada di level 5.792 bahkan jumat kemarin (4/5/2018) sempat menyentuh level 5.768,384 jauh di bawah level tertingginya pada Februari 2018 6.689.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, IHSG saat ini mendapatkan tekanan dari kondisi tak menentu dari global. Seperti ancaman kenaikan suku bunga The Fed, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), hingga tegangnya hubungan AS dengan China.

Meski terjadi penurunan nilai indek dalam seminggu ini, masih ada sinyal positif dari kondisi jatuhnya nilai IHSG. Mulai dari total frekuensi transaksi yang sudah mencapai 360 ribu kali hingga jumlah investor ritel yang aktif yang sudah mencapai sekitar 41 ribu orang.

Lalu value transaksi naik jadi Rp 8,9 triliun dari Rp 7 triliun. IHSG sudah sangat rendah pada pasar yang sangat likuid mestinya menarik.

Sementara pergerakan bursa regional mayoritas juga berada di zona merah.
– Indeks Komposit Shanghai melemah 9,830 poin (0,32%) ke level 3.091,030
– Indeks Strait Times berkurang 30,300 poin (0,85%) ke level 3.545,380.
– Indeks Hang Seng turun 386,869 poin (1,28%) ke level 29.926,500.

Saham-saham yang masuk jajaran top gainers di antaranya adalah Indo-Rama (INDR) naik Rp 470 ke Rp 2.350, Roda Vivatex (RDTX) naik Rp 300 ke Rp 5.500, Indomobil Sukses (IMAS) naik Rp 250 ke Rp 2.610 dan Matahari (LPPF) naik Rp 225 ke Rp 9.600.

Sementara saham-saham yang masuk jajaran top losers di antaranya adalah, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.775 ke Rp 67.200, Graha Layar Prima (BLTZ) turun Rp 540 ke Rp 1.760 dan Indofood (INDF) turun Rp 375 ke Rp 6.350

BACA :   Kondisi Rupiah dan IHSG Jumat pagi 20 Juli 2018

Kondisi saat ini membuat banyak para investor maupun manajer investasi yang mengalami penurunan nilai protofolio yang cukup besar. Namun beberapa pengamat meyakini bahwa IHSG akan kembali menguat.

Meski begitu Tito tentu tidak bisa memprediksi kapan IHSG akan rebound. Menurutnya tekanan akan hilang jika sentimen negatif dari luar negeri tentang ketidakpastian akan hilang. Sebab itu suatu hal yang dibenci para investor.

Dia juga yakin Bank Indonesia (BI) selaku penjaga moneter akan mengambil tindakan untuk menahan pelamahan Rupiah terhadap dolar AS. Salah satunya sinyal menaikkan suku bunga acuan BI 7 days repo rate.