Penurunan Saham Rokok Akibat IHSG Anjlok

Penurunan Saham Rokok Akibat IHSG Anjlok

Tren Penurunan Saham Rokok Akibat IHSG Anjlok

Penurunan harga saham untuk perusahaan rokok telah tampak dari awal tahun 2018, imbas dari penurunan IHSG. Bahkan ada yang sudah turun 40% lebih dari posisi tertingginya di tahun ini.

Ditinjau dari indeks harga saham yang terdapat BEI, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) harga saham dari Rp. 5.500 menjadi Rp. 5.250 di akhir Januari dan sekarang berada di posisi Rp. 3.280 turun 4.,36% dan juga laba bersihnya di 2017 turun tipis 0,71% dari Rp 12,76 triliun di 2016 menjadi Rp 12,67 triliun.

HMSP sebenarnya mencatatkan kenaikan penjualan bersih yang lumayan, dari Rp 95,46 triliun di 2016 menjadi Rp 99,09 triliun. Namun beban pokok penjualan perseroan juga naik dari Rp 74,87 triliun menjadi Rp 76,16 triliun. Laba kotor pun hanya naik dari Rp 23,8 triliun menjadi Rp 24,2 triliun.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) bahkan mampu mencatatkan kenaikan laba bersih di tahun buku 2017. Laba bersih GGRM pada 2017 sebesar Rp 7,75 triliun, naik 16,07% dari laba bersih 2016 sebesar Rp 6,67 triliun.

Saham GGRM pada akhir Januari dari Rp.85.300 menjadi Rp. 85.275 lalu sampai saat ini telah menjadi Rp. 67.200 telah turun 21,21% dari posisi tertingginya. Namun pendapatan GGRM di 2017 juga naik 9,22% dari Rp 76,27 triliun menjadi Rp 83,3 triliun. Meskipun beban biaya pokok penjualan perusahaan juga naik dari Rp 59,65 triliun menjadi Rp 65,08 triliun.

Beban perusahaan lainnya juga tercatat naik, seperti beban usaha naik dari Rp 6,6 triliun menjadi Rp 7,1 triliun. Beban lainnya juga naik dari posisi Rp 13,5 miliar menjadi Rp 32,8 miliar.

BACA :   Kondisi Rupiah dan IHSG Jumat pagi 20 Juli 2018

Namun untuk PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) bernasib berbeda. Sahamnya cukup fluktuatif di akhir Januari ditutup di level tertinggi Rp 296. Namun kemarin saham WIIM sudah berada di level Rp 254 atau sudah turun 14,18%. Namun produsen rokok ini mengalami penurunan laba besih di 2017 sebesar 61,81% dari Rp 106,15 miliar di 2016 menjadi Rp 40,53 miliar.

Penjualan bersih WIIM juga tercatat turun 12,4% dari Rp 1,68 triliun menjadi Rp 1,47 triliun. Meskipun beban pokok penjualan perseroan turun dari Rp 1,17 triliun menjadi Rp 1,04 triliun.

Beban usaha perseroan juga tercatat stabil, seperti beban penjualan dari Rp 224,03 miliar menjadi Rp 230,13 miliar, serta beban umum dan administrasi sebesar dari Rp 150,8 miliar menjadi Rp 158,48 miliar.