Penurunan Penjualan Properti

Penurunan Penjualan Properti

Penurunan Penjualan Properti

Bank Indonesia sebagai regulator layanan perbankan yang bertugas mengawasi salah satunya kredit properti mencatat adanya penurunan nilai penjualan semseter I tahun 2018 yang disebabkan salah satunya adalah tingginya bunga KPR.

Hal tersebut terlihat atas laporan hasil survey yang dilakukan BI melalui Survei Harga Properti Residensial (SHPR) pada triwulan II-2018 yang melihat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II-2018 yang tumbuh 0,76%. Angka itu lebih rendah dari pada pertumbuhan IHPR di triwulan I-2018 sebesar 1,42% dibanding triwulan sebelumnya.

BI mencatat untuk kenaikan harga properti di triwulan II-2018 lebih disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan.

Jika dipecah dari berbagi tipe rata-rata pertumbuhannya juga mengalami penurunan. Untuk IHPR tipe kecil tumbuh 1,36%, lebih rendah dibanding pertumbuhan di triwulan sebelumnya 2,3%.

Lalu untuk IHPR tipe menengah pertumbuhannya turun dari 1,31% menjadi 0,68%. Sedangkan untuk IHPR tipe besar turun dari 0,64% menjadi 0,27%.

Sementara dari sisi wilayah, kota yang pertumbuhan IHPR-nya meningkat hanya Medan dari 1,48% menjadi 2,94%. Sisanya relatif turun. Bahkan untuk Balik Papan rata-rata harga hunian turun 1,11%.

Terlihat juga adanya penurunan penjualan properti residensial di triwulan II-2018 turun -0,08% dari triwulan sebelumnya. Padahal di triwulan I-2018 penjualan properti residensial tumbuh 10,55%.

“Penjualan properti residensial menunjukan penurunan khususnya pada rumah menengah dan besar,” kata Direktur Departemen Statistik BI Gantiah Wuryandani di Gedung BI, Jakarta.

Untuk penjualan properti residensial rumah tipe besar turun 4%. Sementara untuk penjualan rumah tipe menengah turun paling besar sebesar 17,29%. Namun penjualan rumah tipe kecil naik 11%.

“Rumah tipe kecil ada peningkatan signifikan karena Kementerian PUPR melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ditingkatkan, sehingga mendorong daya beli MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) jadi meningkat,” tambahnya.

BACA :   Prospek Bukit Asam Tetap Menarik Walau Terdepak dari Indeks MSCI

Sementara untuk penyebab penurunan penjualan properti di triwulan II-2018 BI mencatat lantaran tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan masih adanya batasan Down Payment (DP) kredit rumah.

“Ternyata sebagian besar kelompok bank meningkatkan suku bunga. Bank persero hampir sama. Tapi bank swasta nasional justru menurunkan suku bunga,” kata Gantiah.

Sementara berdasarkan kelompok bank, suku bunga KPR terendah adalah bank persero sebesar 9,30% per tahun, dan tertinggi adalah BPD sebesar 12,25% per tahun.