Nilai Pencairan Utang Tambahan ELTY Memiliki Risiko

Nilai Pencairan Utang Tambahan ELTY Memiliki RisikoNilai Pencairan Utang Tambahan ELTY Memiliki Risiko

Pencairan utang tambahan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dari PT Geo Link Indonesia dinilai cukup memiliki risiko. Hal itu diungkapkan investor penolak reverse stock ELTY atau yang dikenal sebagai Forty.

Sebagaimana diketahui, ELTY mendapatkan pinjaman dari Geo Link dengan pagu maksimal Rp 500 miliar. Sampai dengan 22 Desember 2017, emiten tersebut telah mencairkan pinjaman sebanyak Rp 100 miliar.

Namun, dalam keterbukaan informasi BEI 23 Juli 2018 lalu, ELTY melampirkan keterangan bahwa ada pencairan utang tambahan yang sudah dilakukan emiten tersebut. “Total tambahannya sebesar Rp 213,5 miliar,” tulis Sekretaris Perusahaan ELTY Yudy Rizard Hakim dalam keterbukaan informasi 23 Juli 2018.

Dengan begitu, total utang yang ELTY cairkan dari Geo Link adalah Rp 313,5 miliar. Dalam laporan tersebut, dijelaskan jika diperlukan, ELTY akan mengambil seluruh pagu pinjaman yang diberikan Geo Link Indonesia. Tujuannya, untuk memenuhi rencana bisnis ELTY ke depan.

Kenyataannya, usai mencairkan utang tambahan pada Mei lalu sebanyak Rp 213,5 miliar, ditemukan penambahan utang ke PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE). Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2018 JGLE, utang berelasi ke ELTY sebesar Rp 68 miliar.

Sedangkan pada laporan keuangan kuartal I 2018, ditemukan bahwa utang berelasi Rp 168 miliar, atau naik sekitar Rp 100 miliar. Sedangkan pada laporan keuangan 30 Juni 2018, jumlah utang berelasi naik menjadi Rp 381 miliar atau sekitar Rp 213 miliar.

Forty menganggap aktivitas tersebut sebagai piutang berelasi. Artinya, induk meminjamkan utang ke anak usaha yang dimiliki hanya 37%. “Utang piutang berelasi ini punya potensi risiko terhadap induk,” kata investor ELTY yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Kontan.co.id, Minggu (19/8).

Menurutnya, dalam kaidah good corporate governance (GCG) seharusnya dipublikasikan, terlebih jika pinjam yang dilakukan holding disuntikkan ke anak usaha dan holding sebagai penjamin. “Jika induk meminjamkan dana ke anak, tujuannya harus jelas. Artinya induk merisikokan diri dan harus ada keterbukaan informasi kepada publik,” jelasnya.

Di sisi lain, Forty menilai jika JGLE memiliki utang harusnya perusahaan ini bisa melakukan restrukturisasi. Misalnya dengan melakukan rights issue dan upaya lainnya, sehingga tidak mengorbankan induk usaha untuk menambah utang.

“Sayangnya, management tidak melakukan keterbukaan informasi itu. Jangan sampai untuk menutupi kekurangan anak, ELTY bisa gagal bayar dan berisiko default, ini artinya menjebakkan diri,” tandasnya.