Mengukur Luasnya Properti Intiland Development

Mengukur Luasnya Properti Intiland DevelopmentMengukur Luasnya Properti Intiland Development

Pada tahun ini sektor properti dan real estate masih terlihat lesu. Walaupun begitu, PT Intiland Development tetap mampu mencetak angka penjualan positif.

Perusahaan properti ini sukses mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan marketing sales, walaupun laba bersihnya harus tergerus di sepanjang semester pertama tahun ini. Emiten dengan kode saham DILD ini juga masih optimistis menggarap sejumlah proyek baru hingga pengujung tahun nanti.

Dalam laporan kinerja semester I-2018, DILD mencatat kenaikan pendapatan 34,9% (yoy) menjadi Rp 1,8 triliun. Kontribusi terbesar masih berasal dari segmen residensial, yaitu 61,3% atau setara Rp 1,1 triliun. Kontribusi dari segmen mixed-use dan high rise sebesar 23,4% dengan total Rp 422,2 miliar. Sisanya merupakan kontribusi recurring income, dengan total nilai Rp 276,1 miliar.

Sekretaris Perusahaan DILD Theresia Rustandi mengatakan, dengan tingkat penjualan yang cukup tinggi, DILD masih terus melakukan ekspansi. Emiten ini mengembangkan kluster baru di perumahan Graha Natura, Serenia Hills dan Talaga Bestari.

DILD juga menggarap proyek Aeropolis, proyek mixed use dan high rise. Emiten ini jugamasih akan menambah varian produk baru di kuartal tiga ini. Theresia menambahkan, DILD terus mengembangkan proyek yang sudah ada (existing). DILD berniat menambah tower baru di Apartemen Alenia di Graha Golf Surabaya dan Apartemen South Quarter II Jakarta Selatan.

Ada beberapa proyek baru yang sedang digarap emiten ini. “Kami akan membangun proyek mixed use Tierra di Darmo Harapan, Surabaya, dan satu lagi apartemen di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan,” ujar Theresia.

Dia juga mengungkapkan, sampai saat ini DILD masih akan fokus menggarap pembangunan proyek di kawasan Jakarta dan Surabaya dengan beberapa pertimbangan. Pertama, kedua kota itu merupakan kota utama di Indonesia yang masih memiliki banyak peluang untuk dikembangkan.

Kedua, DILD mengakui dalam membangun properti tidak mudah dan dibutuhkan wawasan yang memadai tentang daerah tersebut. “Jakarta dan Surabaya kota yang sampai sekarang kami paling kuasai wilayahnya untuk membangun,” ujar Theresia.

Perusahaan ini enggan menggarap properti di suatu daerah tanpa memiliki partner lokal yang lebih menguasai kawasan tersebut. Alhasil, DILD belum memiliki rencana memperluas cakupan pembangunan propertinya hingga ke luar Jakarta dan Surabaya.

Ke depan, DILD masih akan fokus menggarap empat portofolio utama, yaitu residensial, mixed use dan high rise, kawasan industri, serta properti investasi. Perusahaan ini juga terus mendorong recurring income dari fasilitas klub olahraga, penyewaan kantor, hingga penyewaan bangunan pabrik standar untuk segmen kawasan industri.

Menurut Theresia, recurring income Intiland terus tumbuh seiring tuntasnya sejumlah proyek dan mulai efektif serah terima dan disewakan. “Misalnya South Quarter di Jakarta atau Praxis dan Pazio di Surabaya,” kata dia.

Menunda obligasi

DILD masih optimistis memandang prospek industri properti di tahun ini. Apalagi, ada sejumlah insentif yang dikeluarkan pemerintah, salah satunya kebijakan loan to value (LTV).

Hanya saja, Theresia berharap kebijakan tersebut bisa segera ditindaklanjuti dengan perumusan peraturan teknis. Pemerintah juga perlu mengevaluasi ulang aturan pajak, seperti PPh 22, untuk mendorong kelas menengah ke atas masuk pasar properti.

Walau sudah memiliki rencana matang guna menggenjot kinerja di tahun ini, DILD ternyata masih enggan mencari pendanaan lagi. Bahkan, jika semula perusahaan properti ini berniat menerbitkan obligasi global senilai US$ 250 juta, kini DILD memilih untuk menundanya.

Alasannya, karena kondisi pasar keuangan dalam negeri, khususnya pasar obligasi masih volatil. “Global bond ini tadinya untuk refinancing dan sebagian lagi untuk modal kerja. Tapi, kami belum bisa pastikan lagi kapan realisasinya. Pembiayaan pembangunan tidak bergantung dari penerbitan ini,” kata Theresia.

Soal target hingga akhir tahun, Intiland masih optimistis mampu membukukan marketing sales sebesar Rp 3,3 triliun. Hingga akhir semester pertama lalu, Intiland telah mendekap marketing sales senilai Rp 1,28 triliun. Jumlah tersebut naik 40% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.