IHSG Tertekan Selama Sepekan

IHSG Tertekan Selama Sepekan

IHSG Tertekan Selama Sepekan

Laju Indeks Harga Saham Gabungan alami koreski selama sepekan, hal tersebut di dorong saham berkapitalisasi besar seiring melemahnya bursa saham Amerika Serikat atau Wall street.

IHSG turun 1,86% selama sepekan menjadi 6.505,52. Penurunan IHSG didorong saham-saham berkapitalis besar terutama masuk saham LQ45. Saham kapitalisasi besar turun 1,28% selama sepekan. Tekanan IHSG juga tak lepas dari koreksi tajam yang terjadi di wall stree.

Tekanan IHSG juga ditambah tergelincirnya saham-saham berkapitalisasi kecil yang susut 3,87 persen. Penurunan itu pertama kali terbesar yang dialami saham-saham kapitalisasi kecil. Investor asing juga melakukan aksi jual sekitar US$ 327 juta di pasar saham.

Sementara itu, pasar obligasi juga melemah. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun menjadi 6,4 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat sentuh 13.628. Investor asing juga melakukan aksi jual mencapai US$ 183 juta di pasar obligasi.

Vice President Sales and Marketing Distribution, PT Ashmore Assets Management Indonesia, Lydia Toisuta menuturkan, ada sejumlah faktor pengaruhi pasar saham Indonesia. Pertama, lembaga pemeringkat Japan Credit Rating Agency menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan prospek berubah menjadi stabil.

Ada sejumlah faktor mempengaruhi perubahan peringkat Indonesia tersebut. Pertama, ada peningkatan iklim investasi. Kedua, sektor infrastruktur juga mendapatkan momentum di bawah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Ketiga, utang luar negeri terutama swasta relatif terjaga. “Indonesia juga mampu bertahan terhadap goncangan global,” ujar Lydia.

Lydia menambahkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga pengaruhi pasar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sentuh level terendah dalam 20 bulan sehingga membuat Bank Indonesia (BI) intervensi untuk stabilkan pasar. Rupiah sentuh level 13.650 per dolar AS.

BACA :   Bersiap Untuk Menghadapi Roller Coaster di Bursa

Selain itu, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada kuartal IV 2017 sehingga kontribusi ekonomi Indonesia menjadi 5,1 persen pada 2017. Faktor investor turut kontribusi cukup penting bagi pertumbuhan ekonomi namun konsumsi swasta masih rendah. Selain itu, faktor domestik juga mampu bertahan pada kuartal IV 2017.

Lydia menuturkan, pasar saham Indonesia terkoreksi juga kena imbas dari wall street. Bursa saham AS melemah 10 persen dari level tertinggi di tengah kuatnya kinerja laba perusahaan dan data ekonomi. Sementara itu, imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun naik menjadi 2,88 persen.

Melemahnya bursa saham AS atau wall street juga di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve. Data ekonomi kuat menjadi pertimbangan bank sentral AS menaikkan suku bunga. Data ekonomi AS positif itu ditunjukkan dari data tenaga kerja sektor non pertanian bertambah 200 ribu dari perkiraan 180 ribu. Sedangkan tingkat pengangguran berada di level terendah 4,1 persen.

Selain itu, rata-rata gaji per jam juga naik menjadi 2,9 persen secara year on year (YoY) dari perkiraan 2,6 persen. Imbal hasil surat berharga pun naik menjadi 2,84 persen usai rilis data ekonomi AS.