IHSG Sepekan Ini Tertekan dan Tergelincir

IHSG Sepekan Ini Tertekan dan Tergelincir

IHSG Sepekan Ini Tertekan dan Tergelincir

IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan selama sepekan ini cenderung mengalami penurunan disebabkan pnurunan kapitalisasi besar yang merosot.

IHSG melemah pertama kali dalam sepekan ini. Saham kapitalisasi besar yang masuk indeks saham LQ45 turun 1,28% selama sepekan. Namun saham kapitalis kecil dapat mengimbangilantaran catatkan kenaikan. Selama sepekan, investor asing melakukan aksi jual mencapai US$ 65 juta sejak awal Januari 2018.

Sementara itu, pasar obligasi cenderung mendatar selama sepekan. Imbal hasil surat utang atau obligasi bertenor 10 tahun turun menjadi 6,25 persen. Investor asing masih melakukan aksi beli di obligasi yang mencapai US$ 660 juta. Sedangkan nilai tukar rupiah melemah ke posisi 13.452 per dolar Amerika Serikat (AS).

Adapun sejumlah sentimen pengaruhi pasar keuangan selama sepekan antara lain dari Amerika Serikat. Staf DPR dan senat sedang mengerjakan Rancangan Undang-Undang (RUU) anggaran meski para pemimpin partai Republik belum membuat keputusan akhir mengenai rencana itu.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve memutuskan pertahankan suku bunga usai lakukan pertemuan dalam dua hari. Suku bunga the Federal Reserve tetap 1,5 persen. Inflasi pun masih di bawah target, meski tingkat pengangguran rendah.

Meski demikian, pejabat the Federal Reserve melihat target inflasi dua persen akan tercapai pada 2018. Hal ini mendorong spekulasi kenaikan suku bunga secara bertahap menjadi dua persen. Dalam pertemuan the Federal Reserve tersebut merupakan rapat terakhir yang dipimpin oleh Janet Yellen. Pada pertemuan the Federal Reserve berikutnya akan dipimpin oleh Jerome Powell.

Amerika Serikat (AS) juga melaporkan data produk domestik bruto (PDB) mencapai 2,6 persen pada kuartal IV 2017. Angka ini masih di bawah 3,2 persen pada periode sebelumnya. Pasar juga mengharapkan tiga persen.

BACA :   Ada Sanksi Pidana Bagi yang Terlibat Dalam Saham Gorengan

Perlambatan pertumbuhan PDB riil pada kuartal IV ini mencerminkan penurunan investasi swasta, ekspor, investasi, belanja pemerintah dan pemerintah daerah, pengeluaran pemerintah federal. Namun ada kenaikan investasi di sektor properti.

Dari sentimen internal yang pengaruhi IHSG antara lain, inflasi Indonesia tercatat 0,62 persen pada Januari 2018. Dilihat year on year (YoY), inflasi mencapai 3,25 persen. Adapun angka inflasi Januari 2018 lebih rendah dari rata-rata konsensus pada 2010-2017 di kisaran 0,71 persen. Adapun kontribusi inflasi disumbang dari faktor harga pangan mencapai 0,48 persen. Kenaikan harga beras menyumbangkan kontribusi 0,24 persen.

Selain itu, investasi asing tumbuh 12,7 persen pada kuartal IV 2017. Sedangkan investasi domestik tumbuh 11,4 persen. Total investasi langsung mencapai Rp 692,8 triliun pada 2017. Angka investasi tersebut tumbuh 13,1 persen.

Sentimen lainnya pengaruhi pasar saham yaitu peraturan baru tentang tarif listrik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam akan menerbitkan peraturan baru mengenai tarif listrik yang memperhitungkan harga batu bara sebagai salah satu komponen menentukan tarif listrik. Ini selain inflasi, nilai tukar dan harga minyak Indonesia.

Formula ini baru dipertimbangkan mengingat meningkatnya penggunaan batu bara yang mencapai 57 persen dari total biaya. Perubahan itu akan diterapkan pada kategori non subsidi 1.300 volt ampere (VA). Sedangkan tidak ada perubahan formula tarif listrik untuk 450 VA dan 900 VA.