Euro Masih Mengeluarkan Sinyal Pelemahan Meski Menguat di Akhir Pekan

Euro Masih Mengeluarkan Sinyal Pelemahan Meski Menguat di Akhir PekanEuro Masih Mengeluarkan Sinyal Pelemahan Meski Menguat di Akhir Pekan

Pada akhir pekan lalu, hari Jumat (18/7), mata uang euro terlihat menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Tapi, sebenarnya, kurs euro masih dalam tekanan dengan masih adanya potensi kolaps bank-bank di Eropa karena dampak negatif dari krisis Turki.

Mengutip Bloomberg Jumat (17/8), euro mencatatkan penguatan 0,54% terhadap dollar AS di level 1.1438. Dalam sepekan euro menguat 0,21%.

Analis Rifan Financindo Berjangka, Puja Purbaya Sakti mengatakan penguatan euro dikarenakan kurs dollar AS yang terkoreksi setelah data penjualan ritel menunjukkan kenaikan melebihi dari proyeksi 0,1% menjadi 0,5%.

Selain itu, “Mata uang lira yang mengalami pemulihan setelah berada di level terendah juga membawa tekanan terhadap dollar AS,” katanya Kamis (16/8).

Padahal, dengan adanya krisis Turki kemarin, dollar AS mampu menguat terhadap semua mata uang utama. Pada waktu itu, lira melemah hingga 15,88% ke level 6,4323 per dollar AS.

Sentimen lain yang juga mengangkat nilai tukar euro adalah data inflasi Eropa bulan Juli yang mengalami peningkatan dari 2% menjadi 2,1%. Naiknya presentase tingkat inflasi di kawasan Eropa akan berdampak positif bagi kurs euro.

“Ada pula berita mengenai China yang kembali berencana untuk melakukan pembicaraan perdagangan putaran pertama dengan AS pada akhir Agustus, membantu kurs euro pulih dari posisi terendahnya selama 14 bulan terakhir pada perdagangan hari Rabu,” imbuhnya.

Namun, menurut Puja, pergerakan mata uang euro masih akan didominasi oleh sentimen negatif. Apalagi negosiasi rancangan anggaran fiskal Italia masih belum mencapai kata sepakat. Uni Eropa menilai, pemerintah Italia terlalu banyak menggunakan uang untuk program yang tidak penting.

Krisis Turki juga masih akan membayangi gerak euro. Masalahnya, pasar merasa khawatir karena Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menaikkan suku bunga.

Kekacauan krisis Turki dikatakan sebagai faktor penghalang Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) untuk melakukan normalisasi moneter sehingga bisa memberikan beban bagi euro.

Secara teknikal, euro juga masih memberikan sinyal pelemahan. Pada grafik daily, garis moving average (9) dan titik Parabolic SAR sama-sama masih mengarah ke bawah. Kemudian, pada Vortex Indicator (VI) dengan kondisi red over blue yang melebar, arah kurs berpotensi untuk kembali lanjutkan koreksi. Selanjutnya pada indikator True Strengh Indicator (TSI) berada di area -29, hal ini juga memberikan sinyal pelemahan kurs.

Puja merekomendasikan sell bila kurs kembali berada di bawah level 1.1347 dengan support 1.1300, 1.1253, 1.1189 dan resistance 1.1410, 1.1445, 1.1513.

“Secara umum EUR/USD masih berpotensi untuk melanjutkan koreksi pada perdagangan selanjutnya,” katanya.