Dolar Tembus 14.000 IHSG Jatuh

Dolar Tembus 14.000 IHSG Jatuh

Dolar Tembus 14.000 IHSG Jatuh

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) sampai pertengahan hari ini Selasa 8 Mei 2018 bergerak negatif dibarengi oleh jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah terus naik hingga telah menembus Rp. 14.000. Nilai tukar dolar AS naik dari Rp 13.935 menjadi Rp 14.035 siang ini.

Penguatan dolar AS juga bisa membuat barang-barang impor menjadi lebih mahal yang kemudian berujung kepada inflasi. Namun, besaran inflasi dengan volatilitas dolar AS diperkirakan tak terlalu signifikan.

pada pembukaan perdagangan pagi hari selasa (8/5/2018) IHSG turun 22,318 poin (0,38%) ke level 5.862,780. Indeks LQ45 turun 5,604 poin (0,60%) ke level 935,435.

IHSG terus melemah jelang tengah hari, terjungkal 124,753 poin (2,12%) ke 5.760,345. Indeks LQ45 melemah 26,949 poin (2,86%) ke 914,090.

Posisi tertinggi yang sempat dicatatkan IHSG berada di 5.866,079 dan terendah di 5.752,801. Perdagangan saham siang ini terpantau moderat dengan frekuensi perdagangan saham 212.122 kali transaksi sebanyak 6,1 miliar lembar saham senilai Rp 3,7 triliun.

Delapan sektor saham kompak melemah. Pelemahan paling dalam dialami sektor infrastruktur yang jatuh sebesar 2,16%. Sebanyak 70 saham menguat, 270 saham melemah dan 98 saham stagnan. Perdagangan saham siang ini juga diwarnai aksi jual asing yang mencatatkan jual bersih Rp 325 miliar.

Saham-saham yang masuk jajaran top losers adalah, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.200, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.050 ke Rp 22.300, Unilever Indonesia (UNVR) turun Rp 925 ke Rp 46.975 dan Matahari (LPPF) turun Rp 825 ke Rp 8.575.

Saham-saham yang masuk jajaran top gainers di antaranya adalah, Indo Rama (INDR) naik Rp 730 ke Rp 3.660, Bank Tabungan Negara (BBNI) naik Rp 485 ke Rp 1.460, FKS Multi Agro (FISH) naik Rp 440 ke Rp 2.640 dan Cita Mineral (CITA) naik Rp 185 ke Rp 935.

BACA :   Kondisi Rupiah dan IHSG Jumat pagi 20 Juli 2018

Menurut Sri Mulyani, pengelolaan dari sisi fiskal tetap terjaga, dengan defisit transaksi berjalan di bawah batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), inflasi di kisaran 3,5 persen, serta tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen untuk kuartal I 2018 yang dinilai masih baik.

Sri Mulyani memastikan, pemerintah akan terus menjaga indikator-indikator tersebut hingga pelaku pasar melihat Indonesia sebagai negara dengan perekonomian yang baik dan stabil.