Bukit Asam Fokus Bangun PLTU dan Tambah Jalur Kereta

Bukit Asam Fokus Bangun PLTU dan Tambah Jalur KeretaBukit Asam Fokus Bangun PLTU dan Tambah Jalur Kereta

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sudah menyusun strategi pengembangan bisnisnya dengan 3 strategi. Emiten ini fokus ke peningkatan konsumsi batubara, menambah kapasitas angkutan kereta api serta mengembangkan bisnis PLTU.

PTBA memperkirakan konsumsi batubara domestik bakal tumbuh 7,9%. PTBA optimistis konsumsi batubara bakal meningkat. Pasalnya, dari rencana pemerintah meningkatkan kapasitas produksi listrik dengan program pembangkit listrik 35 gigawatt (GW), sebanyak 20 GW di antaranya merupakan PLTU.

Saat ini PTBA tengah dalam proses kerjasama membangun PLTU Sumsel 8 yang berkapasitas 2×620 megawatt (MW). Nilai investasi proyek ini sebesar US$ 1,6 miliar.

Corporate Secretary PTBA Suherman menambahkan, PTBA juga merambah energi terbarukan dengan mengikuti tender PLTS berkapasitas 100 MW. Hingga saat ini tender PLTS tersebut masih dalam evaluasi PLN. Suherman menyatakan pihak PTBA belum mengetahui evaluasi apa yang dilakukan oleh PLN.

PTBA juga akan meningkatkan jalur kereta api dengan menambah kapasitas hingga 30 juta ton per tahun. Proyek ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2020.

Terkait prospek PTBA bagi investor, Senior Advisor CSA Research Reza Priyambada menilai, saham PTBA layak untuk dilirik. Sebab, PTBA selalu mengalami pertumbuhan yang signifikan selama tiga tahun terakhir.

Sepanjang semester I-2018, PTBA membukukan kinerja yang apik dengan pencapaian pendapatan sebesar Rp 10,5 triliun, naik 17,4% dibandingkan semester I-2017. Sementara, laba bersih mencapai Rp 2,6 triliun, naik 49,4% dibanding semester I-2017.

Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe memandang strategi pengembangan bisnis PTBA memiliki prospek baik ke depan. Saat ini kapasitas kereta masih terbatas, sehingga menambah rel baru adalah hal yang sangat tepat dilakukan oleh PTBA, ujar Kiswoyo.

Kiswoyo menilai investor bisa masuk membeli saham PTBA saat ini. Harga saat ini, Rp 4.120 per saham, masih jauh di bawah harga wajarnya, yaitu Rp 5.000 per saham.